Jeritku lebih keras dari pekatnya malam.
Dinding kamar diam menjadi saksi.
Diam tak bergeming,
Menghakimiku layaknya sebuah penjara.
Kuadukan kegilaamu nantinya,
Pada bait-bait tetesan darah dan air mata.
Semakin gila, semakin menderita
Kisah perjalanan ini.
Kegilaan mu menggamabarkan sesosok iblis yang tersenyum.
Mencabik-cabik akan kemunafikan.
Mengajarkan derasnya penderitaan.
Dengan panah tajam dari suatu penghianatan.
Gila..gila dan semakin gila.
Sunyi senyap tak ubahnya sebagai borgol.
Kau pasung aku yang tak berdaya,
Tanpa sedikit celah kau beri kesempatan.
Untuk melihat indahnya malam itu.
A.I.B


0 komentar:
Posting Komentar